Monday, December 7, 2009

Si "Motif Lain" Yang Menggemparkan

Si motif lain sedang gencar dibahas disana-sini. Si motif lain ini, kenapa begitu menggemparkan ? Kenapa begitu ditakuti.....? Saya geleng-geleng kepala diantara rasa lelah saya. Heran, agak bercampur jengkel. Saat mandi tadi, saya sempat merenung singkat. Mahluk menakutkankah si motif lain itu...?

Hm, tentu saja bukan saya yang akan menjawabnya (wong saya sedang bertanya). Saya masih tetap merasa heran yang bercampur agak jengkel tadi. Sambil mengeringkan rambut di depan laptop butut ini izinkanlah saya melepaskan keheranan saya.

Apakah si motif lain ini ditakutkan karena motifnya aneh, langka, atau berbahaya. Motif apa ya kira-kira..., motif abstrak, motif klasik, motif surealis ala Salvador Dali...? Mungkin si motif lain inilah yang diletakkan secara paksa pada bu Prita (dikira motifnya mencemari keindahan kain lorri si Omni). Mungkin si motif lain ini diduga telah bertengger untuk acara demo yang akan dilaksanakan pada tanggal 9 Desember nanti (2 hari lagi ya). Demo Hari Anti korupsi, konon katanya ditunggangi motif lain ?

Entahlah. Apakah kita sudah menjadi begitu berlebihan dalam memelihara syak wasangka kita. Sekali lagi entahlah. Semoga ketakutan akan adanya motif lain ini tidak menggetarkan langit sehingga malah mendorongnya menjadi sebuah kenyataan. Semoga saja tidak. Saya cuma berharap tangal 9 Desember nanti tidak terjadi macet, apalagi chaos disana. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Jadi, sambil tetap waspada, mari tepiskan ketakutan akan adanya motif lain ini. Mari........
READ MORE - Si "Motif Lain" Yang Menggemparkan

Sunday, December 6, 2009

Seseorang yang Menggugat Rasa


Ia seperti air laut yang menepi dan surut,
ketika sesuatu di dada menciut ke titik nol.
Ia seperti air laut menerjang dan pasang,
ketika sesuatu di dada membuncah tak bertepi

Bila ia adalah busa, maka ia adalah secuil busa di tengah samudera luas. Begitulah kira-kira keberadaanya di alam semesta ini. Ia seseorang, seorang manusia, yang menapaki bola raksasa bernama "Bumi" ini. Dan seseorang ini, tanpa bisa dicegah oleh waktu, menggugat rasa.

Rasa apakah yang ia gugat....? Pertanyaan ini seketika muncul. Dan jawabannya adalah.....rasa yang tak menggenapkan. Rasa yang dirasa-rasa. Rasa yang ketika muncul membuat sesuatu mengelegak di dada. Rasa yang membuat pandangan menjadi gelap, dan menyesakkan. Rasa itulah yang harus digugat. Gugatlah dengan nurani yang ada. Bukankah perjalanan hidup sepanjang jalannya telah mengajari kita.

Maka perlukah lagi kita menggugat bahagia dan tidak bahagia. Perlukah kita menggugat kepedihan kita. Perlukah kita menggugat ketidakpuasan kita. Masing-masing kita akan menjawabnya dengan keinginan kita sendiri. Seseorang pernah berkata atas rasa tidak bahagia kita, kepedihan dan kesedihan kita, perihnya akan menghujam seperih yang kita izinkan. Maka tentu saja ia akan mendera kita sepanjang kita mengizinkannya.

Mari gugat hati nurani kita. Sepanjang perjalanan dunia yang semakin tua, perasaan sering menipu kita. Sedang hati nurani, ia tak pernah membohongi kita.
Kita adalah apa yang kita pikirkan. Selamat melangkahkan kaki menapaki bola raksasa bernama "Bumi" ini dengan rasa yang kita inginkan.
READ MORE - Seseorang yang Menggugat Rasa

Secangkir Kopi Tanpa Goreng Ubi



Pagi yang menggeliat seperti biasanya. Diawali kokok ayam yang terdengar sayup-sayup di komplek sebelah. Inilah rutinitas awal hari. Seperti biasa, tentu saja dengan secangkir kopi. Lalu entah darimana datangnya, sebuah keinginan tiba-tiba muncul begitu saja. He, ingin menikmati secangkir kopi ditemani sepiring goreng ubi. Sebuah keinginan sangat sederhana bukan. Tapi menjadi sulit mengingat dimana saya bisa mencari sepiring goreng ubi saat ini juga.

Saya terdiam, memandangi secangkir kopi saya. Ya secangkir kopi tanpa goreng ubi. Tentu saja sulit memenuhi sebuah keinginan bila datangnya mendadak seperti ini. Secangkir kopi saya terlihat kelu. Maka tidak ada yang bisa saya lakukan selain segera berkompromi dengan hati. Kopi saya sudah terhidang. Saya harus segera meminumnya sebelum cairan hitam kesukaan saya itu menjadi dingin, meski tanpa goreng ubi.

Shruuuuup......., saya mereguknya dalam diam. Sepotong roti akhirnya terasa bak goreng ubi. Saya mereguk kembali cangkir kopi saya, kembali dalam diam. Dalam regukan diam dan hening ini saya merenung. Begitulah sebuah keinginan. Bahkan untuk sepiring goreng ubipun kita harus berkompromi dan bersabar. Saya harus menyiapkan 2-3 kilo ubi di rumah. Jadi kalau keinginan itu datang, saya tinggal srat-sret, membuat goreng ubi.

Ya sepiring goreng ubi atau sebentuk keinginan yang lain, apapun itu, tentu harus direncanakan. Bukankah begitu kawan. Dan harapan kadang tidak sesuai dengan kenyataan, kompromi dengan hati harus dilakukan. Begitulah. Untung sekedar ingin goreng ubi. Kalau tiba-tiba ingin ngopi plus sepiring Salmon dari Laut Tengah, dan saya sedang ngidam, hiks apa jadinya. Selamat pagi semua. Saya mau menghabiskan kopi saya lagi ya, meski tanpa goreng ubi. Selamat menikmati akhir pekan.

Gambar diambil dari sini
READ MORE - Secangkir Kopi Tanpa Goreng Ubi

Thursday, December 3, 2009

Ketika Kasih Sayang Menyapa Semesta


Pada suatu pagi yang biasa-biasa saja. Setangkai anggrek dengan bunga mungil menguning (Golden Shower) menyapa pagi dengan rasa indah yang seadanya. Dan rasa indah yang seadanya itu, entah kenapa saya suka. Ada kepercayaan diri yang teguh tersirat didalamnya. Ia menyatakan sesuatu yang dahsyat dalam diamnya. Saya, tentu saja menyukai sesuatu yang alamiah seperti ini. Keindahan tak berarti bila tiada keyakinan. Ya, keyakinan sederhana itu ada pada sang Golden Shower yang pagi itu lantang menyeruak ke alam menyapa dunia. Seketika, pagi itu menjadi begitu istimewa di mata saya. Subhanallah.

Maka curahan kasih sayang sang Golden Shower seperti mengingatkan saya akan sapaan kasih para sahabat blogger. Beberapa waktu yang lalu beberapa sahabat telah menganugrahi saya award. Inilah mereka dan awardnya :

  1. Insanitis37
Blogger yang membincang spiritualitas, sastra, dan laku kritis ini memberikan award biru yang indah




2. Award dari Anni Rostiani
Perempuan bijak penyuka makna resonansi kehidupan ini menganugrahkan award spesial ini



3
. Award dari Aditya
Ya Aditya, sang blogger kreatif juga ceria kita menganugrahkan award indah ini




4
. Award dari Curhat Fanda (01 Desember 2009)
Award keren ini diterima mbak Fanda, sang bookaholic kita, dari mas Cahyadi



Terimakasih kepada para sahabat yang terus menyapa saya dengan sapaan kasih sayangnya.

Keempat award keren ini saya persembahkan kepada :

Sebagai ungkapan rasa terimakasih, saya persembahkan gambar Golden shower saya di atas kepada para sahabat (baik sahabat lama maupun sahabat baru) yang telah saling berbagi, saling support diantara kita, yaitu :
  1. Fanda
  2. Anni Rostiani
  3. Insanitis37
  4. Aditya
  5. http://amriawan.blogspot.com/
  6. Munir Ardi
  7. Becce_lawo
  8. Zahra Lathifa
  9. RanggaGoBloG
Semoga berkenan. Semoga persahabatan kita makin menghangatkan jagad blogosphere dan membawa kebarokahan bagi kita semua dan bagi dunia sebagaimana sapaan kasih sayang sang Golden Shower kepada semesta ini.
READ MORE - Ketika Kasih Sayang Menyapa Semesta

Wednesday, December 2, 2009

Pesan Sehelai Daun Yang Jatuh Ke Bumi


Entah sudah helaian ke berapa dalam hitungan angka manusia ketika sehelai daun jatuh lagi ke bumi, disini. Sehelai daun jambu, jambu air dan bukan jambu klutuk. Seperti helaian yang telah jatuh sebelumnya, sehelai daun yang baru jatuh ini meninggalkan pesan.

" Aku tiba memenuhi janji siklusku. Siklusku tiba pada janji dimana aku harus jatuh ke bumi, dengan pertolongan sang angin. Maka pada sang angin yang telah meniupkanku salam takzim harus diberikan. Aku tumbuh berupa tunas hijau muda malu-malu. Menjadi daun segar warna hijau tua. Berfotosintesis untuk semesta untuk sekian lama. Akhirnya tiba jua pada bagian dimana warna hijauku mulai pupus, digantikan semburat kekuningan yang menjadi coklat. Itulah tanda akhir sikulusku. Sang angin menghantarkanku pada haribaan bumi. Maka lihatlah kalian wahai penghuni semesta, janji pada akhir siklus kita akan tiba. Berkaryalah dengan liukan indah nan harmonis sebisa yang kita lakukan sebelum tiba pada akhir siklus yang tak bisa ditolak kedatangannya...."

Saya termangu, merenungi pesan sehelai daun yang jatuh ke bumi itu. Apakah ini pesan yang layak untuk kita renungkan bersama ? Entahlah. Mari kita renungkan untuk menjawabnya.
READ MORE - Pesan Sehelai Daun Yang Jatuh Ke Bumi

Monday, November 30, 2009

Seperti Apa Rasanya Terbebas dari Hawa Nafsu... ?

Jokpin (Joko Pinurbo) mengilhami saya membuat judul tulisan ini (dari puisinya Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita). Sebuah ide yang sudah lama menganga di benak, tapi belum menemukan bentuk untuk dituangkan. Tiba-tiba saja, malam ini ia seperti mendapat jalan untuk dialirkan. Maka mari kita awali dengan sebuah pertanyaan "Seperti Apa Rasanya Terbebas Dari Hawa Nafsu ?"

Begitulah pertanyaan bodoh yang sering muncul ketika saya menemukan sejumput keinginan dari sebagian besar orang yang baik secara ekspilist dan implisit mengemukakan ingin membebaskan diri dari sesuatu yang bernama Hawa Nafsu. Kenapa...?, karena hawa nafsu adalah pangkal kemudharatan. Kira-kira seperti itulah alasannya.
  • Menyatakan diri hina karena masih memiliki hawa nafsu (terdengar ingin dikatakan lebih mulia dari orang kebanyakan karena telah menyadari hinanya sebuah nafsu)...!?
  • Hanya ingin memiliki sense positif (ingin mati rasa dari semua hal negatif, seperti cemburu, mati rasa dari membenci)
  • Pernyataan yang berkutat pada keinginan membuang hawa nafsu.
Setiap kali menemukan pernyataan itu, jengah saya muncul. Entah kenapa. Ada semacam rasa enggan. Bukankah pada saat kita ingin terbebas dari hawa nafsu itupun karena ditunggangi sebuah nafsu (nafsu ingin dipandang sempurna).!? Semoga bukan. Dan rasanya tidak logis saja menentang sesuatu yang sebetulnya adalah fitrah kita manusia. Sudah menjadi fitrah kita manusia sebagai mahluk yang memiliki air dan api. Ya, kita manusia memiliki hawa nafsu. Ingin membuang hawa nafsu, bagi saya terdengar seperti pengingkaran atas rasa kemanusiaan kita. Rasanya tidak manusiawi, bertentangan dengan hati nurani.

Seperti apa rasanya terbebas dari hawa nafsu ? Entahlah. Saya, hehe, jelas belum pernah merasakan karena saya masih manusia biasa. Itu terdengar absurd dan aneh saja. Hawa nafsu tidak akan bisa kita buang. Bila kita ingin membuangnya, kita tidak akan utuh lagi (hiks, kenapa kita tidak sekalian minta dijadikan malaikat saja).

Kita hanya perlu mengendalikan hawa nafsu kita. Kita perlu memperhatikan dan mengendalikan apa yang menjadi kedambaan kita. Kita perlu memperhatikan dan mengendalikan apa yang menjadi ketakutan kita. Itulah jalan kita mengendalikan hawa nafsu kita, katanya. Saya kira ini benar adanya. Tentu saja, ini cuma pendapat seorang anak manusia yang masih dipenuhi nafsu (diantaranya nafsu ingin memaknai sebuah kehidupan secara natural, apa adanya, dan selaras dengan hati nurani). Wallahu a'lam bishawab. Mari kita renungkan bersama bila berkenan.
READ MORE - Seperti Apa Rasanya Terbebas dari Hawa Nafsu... ?

Mari Mulai Lagi


Ya mari mulai lagi. Setelah libur 3 hari, ini hari secangkir kopi terasa nikmat sekali. Mari terburu-buru lagi. Terbangun oleh alarm HP sepuluh menit sebelum terdengar adzan shubuh. Menggeliat sejenak lalu ke kamar mandi, membasuh muka dan seterusnya. Melakukan sedikit kegiatan domestik yang sangat penting, membuat sarapan, menyeduh secangkir kopi, secangkir teh, dan seterusnya. Setelahnya mandi plus lain-lain hingga siap berangkat ke tempat kerja. Mari mulai lagi pengembaraan hari. Sebagaimana hari biasanya, hari ini milik kita kawan. Begitulah bisikan si Angin Selatan, seperti biasa. Ya, semoga hari ini membawa kesuksesan dan kebarokahan bagi kita semua.
READ MORE - Mari Mulai Lagi

Friday, November 27, 2009

Semesta Berkurban Untuk Kita



Mendung yang melingkupi sejak shubuh menjelang, menyejukkan suasana. Tapak dara yang menyambut pagi dengan senyum ungunya yang indah. Kecipak air di kamar mandi saat muka dibasuh dengan kesejukan sebuah do'a. Maka lengkaplah kesempurnaan kesejukkan hari ini. Ya, hari ini sebagaimana setiap hari yang lain, semesta berkurban untuk kita. Idul Adha menjelang kawan.

Saya, seperti biasa, agak segan mengurai sesuatu secara panjang lebar dengan demi menuangkan sebuah peristiwa. Ikhwal Idul Adha bukankah dengan mudah bisa kita selancari (googling atau wikiing saja). Biarkanlah kita saling merangkai makna sepenangkapan kita secara terbatas ini. Maka Idul Adha bagi saya spiritnya adalah bagaimana kita berkurban bagi orang-orang di sekitar kita, bagi lingkungan kita, bagi alam semesta ini sebagaimana jejak sang Nabi (Ibrahim AS). Sebagaimana semestapun telah berkurban, menyerahkan semua yang indah dan membahagiakan untuk kita nikmati.

Selamat Idul Adha 1430 H. Maaf lahir dan bathin. Semoga setiap detik nyang kita rangkai mendatangkan kesuksesan dan kebarokahan bagi dunia. Dengan begitu pengurbanan semesta untuk kita tidak sia-sia.
READ MORE - Semesta Berkurban Untuk Kita

Wednesday, November 25, 2009

Little House On The Prairie, Spirit Sebuah Harapan


Sudah lama sekali harapan itu terbentuk. Saya ingat-ingat lagi, ya memang sudah lama sekali. Sejak zaman saya masih bocah, kira-kira berusia sama dengan tokoh Laura Inggals dalam film tersebut. Sebuah harapan ingin mendiami rumah mungil nan tenang di padang rumput. Rumah mungil dengan situasi yang digambarkan dalam serial Little House on The Prairie (Mudah-mudahan ada yang masih ingat film serial ini ya).

Ternyata sudah selama itu harapan tersebut saya pendam. Saat tadi ingatan saya kembali ke belakang tentang penyebabnya. Rasanya....tidak ada. Semuanya mengalir begitu saja. Harapan itu tumbuh tanpa saya sadari sejak saya masih bocah kecil dengan mata bening dan berambut ekor kuda yang senang berlari-lari menyongsong jam tayang serial itu. Seperti harapan sang Laura Inggals (gadis kecil tokoh utama film tersebut) yang ingin menjadi tumbuh dengan semangat keberanian dan kemurnian yang kuat. Seperti itulah harapan itu tumbuh.

Begitulah. Bila orang lain menangkap spirit film itu sebagai bentuk kesederhanaan kehidupan dengan kedaiamaian yang indah di dalamnya, saya he justru menangkap bahwa kesederhanaan dan kemurnian itu terus bertumbuh di dalam kedamaian. Menangkapnya dalam bentuk yang indah dan harmony dengan sikon kita, itu yang sulit. Rasanya, harapan mendiami rumah mungil dengan spirit seperti itu hingga kini belum saya gapai. Saya hidup dengan spirit ketergesaan kota besar. Jauh dari harapan semula yang dulu.

Mungkin ini alasan terpendam saya ingin segera hidup di tempat yang tenang dan damai, dengan spirit kesederhanaan dan keberanian yang terus bertumbuh. Seperti rerumpun rumput liar yang tumbuh di padang rumput. Tetap tegar dan kuat meski angin terus menerpa. Tetap bertahan meski kemarau kadang mendera.

Begitulah spirit harapan itu. Rumah sih sudah mungil, tapi suasananya yang belum dapat. Situasi yang tenang tanpa kebisingan, padang rumput yang luas, beberapa hewan ternak. Angin yang terus bertiup sepoi-sepoi menerbangkan rumput dan bunga liar di halaman. Ah indahnya bila harapan itu terwujud. Bila tidak, hehe, saya masih bisa menciptakan, menghadirkan suasananya di benak. Itu usaha paling terakhir. dan paling logis yang bisa saya lakukan. Masyaallah....., What a nice phantasy of a country girl, kekeh si Angin Selatan. He, terdengar seperti cibiran Nellie Oleson.


Gambar diambil dari sini
READ MORE - Little House On The Prairie, Spirit Sebuah Harapan

Tuesday, November 24, 2009

Menunggu dan Akhirnya Kuciwa

Menunggu dan akhirnya kuciwa (kuciwa = kecewa yang sangat kecewa), pernah tidak anda merasakannya ? Saya pernah, semalam kejadiannya. Menunggu munculnya pernyataan sikap sang Pakwo tentang gejolak dan gonjang-ganjing di negeri My oh My ini, dan akhirnya cuma kecewa yang saya dapat. Kecewa karena pernyataan pakwo yang tidak jelas, mengambang, dan membungungkan. Apakah perasaan ini cuma saya saja yang merasakan...? Entahlah.

Sudahlah, jangan banyak berharap. Banyak hal yang tidak kita pahami. Seperti juga ada banyak jalan keluar yang belum kita lihat. Begitulah sebuah suara muncul dari si Angin Selatan di sisi kanan saya. Sayapun mengamini. Ya, semoga kekisruhan di negeri My oh My ini segera tuntas. Kalau tidak, lupakan saja. Mari kita urus saja pekerjaan kita. Tentu supaya tidak tambah kuciwa.
READ MORE - Menunggu dan Akhirnya Kuciwa

Saturday, November 21, 2009

Secangkir Kopi Dengan Rasa "Aneh" Soal Anggodo

Kejadiannya tadi pagi, saat saya sedang minum kopi bersama keluarga. Kebiasaan yang buruk, kami terbiasa minum kopi sambil nonton berita. Sedang saya asyik menyeruput kopi, tiba-tiba saja seorang penelpon sebuah acara interaktif di sebuah tv mengagetkan saya. Ya, seorang ibu (ibu A dari Jakarta) berkomentar dengan suara gemetar menahan marah, melepaskan uneg-unegnya soal Anggodo di Edititorial Pagi sebuah stasiun tv.

"Anggodo itu Dajjal. Kenapa dia dibiarkan bebas, karena orang-orang takut dengan nyanyiannya. Kalau dia nyanyi lagi maka banyak pihak penting yang tersangkut. Jadi daripada mereka malu di dunia, mereka membiarkan Anggodo masih bebas. Dari rekaman yang disajikan di MK, nenek-nenek saja tau kalau Anggodo itu bersalah. Dan dia masih saja dibiarkan bebas, tidak ditangkap. Mudah-mudahan laknat segera turun untuk mereka ....!"

Saya tercekat mendengarkan pelampiasan uneg-uneg Ibu A itu. Seketika cangkir kopi saya sisihkan. Kopi itu tiba-tiba saja terasa jadi aneh, sengak dan pahit. He, rasa Anggodokah ini ? Teman saya yang sok tau pernah berkata Anggodo itu artinya Raksasa. Raksasa, mahluk mengerikan, baunya pahit. Begitukah ? Entahlah.

Kembali ke uneg-uneg ibu A tadi, saya kira apa yang berkecamuk di benak Ibu A itu mungkin banyak berkecamuk di benak orang-orang lain, penduduk negeri kita tercinta ini. Itu sudah seperti rumor umum. Di acara wawancara ekslusif stasiun tv lain membahas rekaman yang diputar di MK, Anggodo dengan terang-terangan telah mengakui penyuapan uang yang dilakukannya. Aneh dan ajaibnya keadaan di negeri kita ini, beberapa nama yang pernah tersangkut kasus penyuapan telah divonis, Anggodo si penyuap kelas kakap yang yang sudah menambah kerusakan moral bangsa ini dibiarkan saja bebas. Bebas, tidak tersentuh. Tidak diproses secara hukum.


Begitulah secangkir kopi dengan rasa aneh soal Anggodo ini. Banyak hal yang saya tidak mengerti sebagai orang awam di negeri ini. Ketidak mengertian ini rasanya tidak cukup dipahami dengan hanya berdoa agar kebenaran segera terungkap. Tetapi kekuatan doapun tidak bisa diremehkan. Bila Dia berkendak, apa yang tidak mungkin. Saya harus menghilangkan rasa geram ini dulu agar doa saya bisa dipahamiNya. Atau apakah kita perlu membuat gerakan memohon penangkapan atas Anggodo ? Masalahnya, apa Anggodo itu cuma satu ? Bagaimana menurut anda...?
READ MORE - Secangkir Kopi Dengan Rasa "Aneh" Soal Anggodo

Friday, November 20, 2009

Rembulan dan Seekor Belalang Yang Hinggap di Dahan

Gerangan apa yang membuat malam menjadi begitu indah, syahdu, dan magis (Malam adalah magis, komentar Baho pada suatu ketika, lupa kapan).......? Salah satunya menurut saya adalah karena adanya rembulan. Rembulan, tidak hanya menerangi dengan cahayanya, juga memantulkan biasan sinar dan bayangan indah di segala penjuru. Dan keindahan dan kemagisan sang malam menjadi begitu sempurna saat seekor belalang hinggap di dahan dilatari sang rembulan. Jadilah Rembulan dan seekor belalang yang hinggap di dahan itu menjadi sesuatu kekayaan semesta yang begitu indah.

Dan keindahan itu mutlak menjadi milik saya, tentu saja. Ya seorang sahabat telah menganungrahkannya untuk saya. Sebuah award spesial dari Fanda dengan gambar seekor belalang yang hingap di dahan dilatari sang rembulan. Hal yang membuat saya terkesima, sahabat saya itu ternyata mampu menangkap pengejawantahan rasa yang ada di dalam jiwa saya.



Itulah award yang dianugrahkan sahabat kita itu untuk saya. Award yang juga spesial telah dibagikan kepada beberapa sahabat yang lain disesuaikan dengan karakternya masing-masing. Sesuatu yang sulit dilakukan, mungkin saya tak mampu melakukannya. Terimakasih Fanda.

Tentang Fanda, rasanya tidak perlu banyak dikomentari lagi. Siapa yang tidak kenal sang pecinta buku dengan blog berjudul Baca Buku Fanda itu. Beliau salah satu sahabat terbaik saya di jagad blogosphere ini. Beliaulah yang saat awal saya membuat blog rajin menyemangati. Sejak itu tentu saja sebuah persahabatan adalah saling mensupport. Betapa support seorang sahabat sangat berarti. Kalau ada yang ingin melihat bagaimana Fanda menemukan saya yang saat itu baru tercemplung di jagad blogosphere, bisa klik disini.

Begitulah. Rasanya saya perlu membagikan award spesial itu kepada beberapa sahabat yang menurut perkiraan saya memiliki karakternya yang cocok dengan award tersebut. Paling tidak karena tulisannya selalu sarat makna, indah, syahdu dan magis bagi saya. Anggap saja award ini sebagai pengingat persahabatan antara anda, saya dan Fanda. Inilah beberapa sahabat yang saya anugrahi award tersebut :
  1. Tisti Rabbani
  2. Ivan Kavalera
  3. SeNja
  4. Ajeng
  5. Rosi Atmaja
  6. Insanitis37
  7. Ahmad Flamboyant
  8. Sigit Purwanto
  9. Ernut
Semoga berkenan. Pada setiap malam menjelang, mari kita ingat sang rembulan dan seekor belalang yang hinggap di dahan ini agar malam kita menjadi semakin indah dan syahdu. Selamat pagi semua, selamat beraktivitas.

READ MORE - Rembulan dan Seekor Belalang Yang Hinggap di Dahan

Wednesday, November 18, 2009

Akhir Sebuah Kontemplasi, Tentang Sebentuk Keyakinan, Cinta, Secangkir kopi, Setumpuk Buku, Hp dan laptop Butut



Malam telah menjemput saya dari keriuhan hari. Bau sabun cair yang segar serta kucuran air saat mandi, perbincangan yang ceria dengan Bejo, dan secangkir kopi malam ini cukup membantu membangkitkan sesuatu yang tertimbun di kedalaman benak saya. Hah...., akhirnya tiba juga saya pada akhir kontemplasi yang tadi pagi tak tuntas. Ini tentang Sebentuk keyakinan, cinta, secangkir kopi, setumpuk buku, Hp dan laptot butut.

Ya.....bila kehidupan adalah sebuah perjalanan panjang umat manusia, maka kehidupan kita adalah perjalanan kita. Seyogyangnya sebuah perjalanan membutuhkan bekal. Tentang perjalanan hidup saya sendiri, tentu saja membutuhkan bekal. Sesuatu yang harus saya bawa agar perjalanan saya berlangsung lancar dan menyenangkan. Tadi saya telah memilah-milah hal-hal apa saja yang harus saya miliki agar hidup saya berarti. Maka inilah yang harus saya miliki, setidaknya menurut saya saat ini, yaitu sebentuk keyakinan, cinta, secangkir kopi, setumpuk buku, hp dan laptop. Tentu ini versi saya ya, saya yakin setiap orang punya pendapat sendiri.

Kenapa Hp dan laptop ? Hp sarana saya berkomunikasi dengan sahabat dan kolega, juga sebagai kamera bagi saya. Sedangkan laptop tempat saya menuangkan ide, pikiran, dan uneg-uneg saya. Mengapa secangkir kopi ? He, kalau belum ngopi saya agak lesu. Minum kopi membuat pikiran saya semakin lancar mengembara (mungkin ini hanya sugesti saya saja ya). Mengapa cinta ? Nah yang ini tidak perlu dijawab, semua sudah tau jawabannya. Hanya saja cinta bagi saya tidak perlu dilabelli dan dibatasi. Cinta padanya, cinta pada si dia, suami/istri (misal cinta saya pada Bejo). Bila dilabelli dan dibatasi akan membuat kita terbelenggu. Cinta pada manusia bisa memudar karena waktu, bahkan karena tibanya sang maut. Biarkanlah cinta menjadi cinta. Cinta sebagai bentuk pengasih dan penyayang Dia Sang Maha Segala yang mengalir pada diri kita manusia untuk kita sebarkan kepada semesta ini.

Bagaimana bila tidak ada Hp dan laptop, bisakah kita merekam peristiwa, menuangkan ide dan pikiran dan uneg-uneg kita ? Rasanya bisa. Saya pikir secara mendalam tadi, ya.... bisa. Saya bisa merekamnya dalam benak saya, saya bisa menuangkannya di dedaunan, saya bisa membisikkan ke sang angin, kepada rerumputan dan kepada langit, yang akan memendarkannya kepada semesta. Bagaimana bila tidak ada setumpuk buku ?, hehe saya bisa membaca buku alam. Semesta ini adalah buku seru sekalian alam. Dia bisa mengajarkan banyak hal yang bisa kita petik, kalau saja kita mau. Bagaimana bila tidak ada cinta...? Hehe, cinta tidak akan pernah berakhir. Alirannya akan selalu mengisi alam ini. Kitalah yang sering memutus alirannya, mematikan rasa cinta kita. Bagaimana bila tidak ada keyakinan ? Pasti mandeg, kita tidak akan bisa melangkah. Kalaupun melangkah, langkah kita tidak terarah, sempoyongan kan.

Begitulah sebuah kontemplasi yang tadi pagi tak tuntas. Sayapun seperti diingatkan bahwa bekal saya, bekal anda, bekal kita semua hanya bisa berarti bila kita masih mengarungi perjalanan hidup ini. Bekal kita tidak berarti lagi bila kita tak lagi bisa melanjutkan perjalanan kita, bila kita telah meregang nyawa. Selagi belum terlambat, manfaatkalah waktu anda, manfaatkanlah bekal anda, apapun itu. Khusus yang ini, ini hanya peringatan untuk diri saya sendiri. Bukankah saya, kita semua harus merenungi perjalanan hidup kita. Hari ini hari lahir saya dalam hitungan tahun masehi, alhamdulillah saya diberiNya kesempatan mengisi hari hingga sejauh ini. Semoga saya bisa memanfaatkan sisa perjalanan saya dengan baik. Selamat malam semua.

Gambar diambil dari sini
READ MORE - Akhir Sebuah Kontemplasi, Tentang Sebentuk Keyakinan, Cinta, Secangkir kopi, Setumpuk Buku, Hp dan laptop Butut

Sebuah Kontemplasi Pagi Yang Tak Tuntas


Sebuah kontemplasi yang tak tuntas tiba pada pagi yang bercahaya ini. Entah kenapa tidak ada rasa kesal pada hal ini (biasanya, he, saya benci hal yang tak tuntas). Maka tadi pada hirupan kopi yang kesekian, saya hela nafas sejenak. Ya.....kontemplasi ini biarlah tak tuntas. Akan saya beri ia waktu seharian, kapan saja ia mau. Bukankah hidup adalah sebuah perjalanan panjang penuh kontemplasi. Maka biarkanlah kontemplasi pagi ini tak tuntas. Ia akan berdetas menyusuri jejak hari. Secangkir kopi yang isinya tinggal separuh saya hirup lagi. Selamat pagi kawan semua. Selamat beraktivitas.

Gambar diambil dari sini
READ MORE - Sebuah Kontemplasi Pagi Yang Tak Tuntas

Tuesday, November 17, 2009

Mengkriminalkan dan Mendzalimi......!?

Dua kata di atas, mengkriminalkan dan mendzalimi, jadi kata-kata yang populer sekarang ya. Si A mengatakan B telah mengkriminalkan dirinya. B pun mengaku begitu telah dikriminalkan oleh si A. Si C pun mengaku telah dikriminalkan oleh si A dan seterusnya. Ya, mereka merasa telah dikriminalkan dan didzalimi oleh seterunya. Padahal jelas-jelas mereka bukan seteru, tapi mitra. Aneh ya, tapi demikianlah faktanya.

Singkat kata, itulah yang sekarang menari-nari, berseliweran, dan berusaha saling membentuk opini publik lewat berita-berita di televisi juga di media cetak. Seakan berebut simpati, dan berebut ingin dianggap benar. Dan semuanya mengaku setuju untuk membangun kembali kehormatan dan harga diri bangsa ini. Bukan main......

Lalu apakah yang harus kita lakukan sebagai anak bangsa di luar kelompok A dan B ataupun C itu....? Tentu saja hal yang paling logis bagi saya adalah terus melakukan aktivitas kita, pekerjaan kita, tanggung jawab kita dengan baik. Larut dalam carut-marut hanya akan memperkeruh suasana. Bila ingin mengatakan pendapat, urun rembug terhadap perkembangan wacana atau diskusi mengenai hal-hal tersebut, lakukanlah dengan cara yang baik dan penuh tanggung jawab. Setelahnya mari kita berdoa agar kondisi carut marut ini segera terselesaikan dengan baik.

Seorang pengacara dari salah satu kelompok tadi mengatakan " Apa gunanya saling mengkriminalkan dan saling mendzalimi... ?, jelas tidak ada guna. Kita sepakat ingin membangun bangsa ini. Ya...saya setuju, saling mengkriminalkan dan saling mendzalimi jelas tidak berguna, malah semakin mempurukkan diri sendiri, dan memperpuruk bangsa ini. Mari masing-masing kita mulai merubah mindset kita, hidup hanya berarti bila dilakukan dengan penuh kemanfaatan, dengan cara yang benar. Seyogyanga kita tidak melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri dan keluarga hanya karena emosi dan kepicikan pikiran (misal seperti si Evan itu). Jangan saling mengkriminalkan dan saling mendzalimi tentu saja. Bagimana menurut anda.......?
READ MORE - Mengkriminalkan dan Mendzalimi......!?